Karakteristik Pantai Mengacu kepada klasifikasi Dolan drr. (1975)

karakteristik pantai daerah penelitian dapat dibagi menjadi 2 (dua) tipe pantai (Gambar 2), yaitu pantai tipe 1 dan pantai tipe 2. Pantai Tipe 1 Pantai tipe 1 meliputi kawasan sepanjang pantai dari ujung timur (Teluk Sadeng) hingga Parangtritis, dicirikan oleh pantai berpasir putih yang merupakan hasil rombakan dari batugamping terumbu, bentukan topografi karst, dengan relief tinggi dan membentuk tebingtebing curam, garis pantai berkelok membentuk teluk (embayment beach) dan tanjung kecil. Pantai tipe 1 antara lain adalah Pantai Teluk Sadeng (Foto 1), Pantai Wediombo, Pantai Ngerenehan , Pantai Siung dan Pantai Baron. Endapan pasir yang dijumpai di pantai Baron memiliki warna yang kecoklatan sebagai pengaruh dari endapan pasir yang diendapkan oleh sungai. Morfologi bergelombang hingga kasar dengan relief menengah hingga tinggi. Kemiringan pantai relatif landai dengan lebar dan panjang pantai yang relatif sempit. Bentuk garis pantai umumnya membentuk teluk dan berkantong pantai. Pada pantai tipe 1, pemanfaatan lahan umumnya adalah daerah wisata pantai, dan tempat aktifitas nelayan. Di daerah ini, pemukiman berada sangat dekat dengan garis pantai yang berbatasan langsung dengan garis pantai. Perahu nelayan berada di muka pantai tanpa tertambat dengan kencang, sehingga akan mudah terhempas apabila gelombang datang, sedangkan vegetasi penutup di muka pantai sangat jarang atau bahkan tidak ada, sehingga resiko kerusakan akibat hempasan benda-benda yang terdapat di pantai, apabila dilanda tsunami akan lebih besar dialami oleh bangunan dan rumah-rumah penduduk.

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 5, No. 3, Desember 2007 162

Pantai Tipe 2 Pantai tipe 2 terdapat di barat daerah penelitian, dicirikan oleh sedimen penyusun berupa pasir abu-abu kehitaman yang merupakan hasil rombakan dari batuan produk gunungapi. Morfologi landai dengan relief rendah. Bentuk garis pantai lurus, dicirikan oleh adanya gumuk-gumuk pasir yang terdapat di muka pantai. Kemiringan pantai relatif curam, berm yang lebar dan panjang pantai yang lebih dari 200 meter. Pada pantai tipe 2 ini, penduduk memanfaatkan lahan pantai sebagai daerah kunjungan wisata, namun penduduk mendirikan bangunan wisata dan pemukiman relatif jauh dari garis pantai dan berada di belakang gumuk pasir. Gumuk pasir tersebut dapat bertindak sebagai pelindung alami yang dapat mereduksi energi gelombang. Vegetasi penutup adalah pandan pantai, tumbuhan menjalar dan semak. Pantai tipe 2 antara lain adalah Pantai Parangtritis (Foto 2) dan Pantai Samas. Kedalaman Dasar Laut Hasil pengukuran kedalaman dasar laut menunjukkan bahwa perairan selatan Yogyakarta memiliki pola kontur yang sejajar garis pantai, yang berangsur makin dalam ke arah laut lepas, dengan nilai kedalaman dari garis pantai hingga 12 mil berkisar antara 5 meter hingga 350 meter (Gambar 3). Kenampakan 3 dimensi memperlihatkan perairan sebelah barat penelitian memiliki morfologi yang bergelombang hingga curam (Gambar 4). Secara umum pola kontur kedalaman dasar lautnya cenderung Gambar 2. Peta Karakteristik Pantai Selatan Yogyakarta Foto 1. Pantai Tipe I yang dicirikan pantai berpasir putih, (Lokasi Pantai Teluk Sadeng)

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 5, No. 3, Desember 2007 163 mengikuti pola garis pantai daerah penelitian dengan kenaikan harga kontur yang gradual. Pada bagian barat daerah penelitian pola kontur kedalaman memperlihatkan kerapatan kontur yang relatif jarang ke arah pantai dan semakin rapat ke arah lepas pantai, pola tersebut menunjukkan bahwa morfologi dasar laut sebelah barat daerah penelitian cukup landai pada daerah pantai dan semakin curam ke arah lepas pantai. Pada bagian timur daerah penelitian menunjukkan pola kontur kedalaman yang cukup rapat di dekat garis pantai, sedangkan ke arah lepas pantai relatif jarang. Pola tersebut menunjukkan morfologi di bagian timur daerah penelitian cukup terjal di daerah dekat pantai dan ke arah lepas pantai morfologi relatif landai. Dalam perjalanannya, kecepatan tsunami sangat dipengaruhi oleh kedalaman dasar laut. Pada kedalaman sangat dalam kecepatan tsunami dapat mencapai ratusan hingga ribuan kilometer per jam dengan amplitudo (tinggi gelombang) yang kecil, namun di perairan dangkal kecepatannya berkurang dengan amplitudo yang semakin tinggi, sehingga pada bagian timur daerah penelitian, yaitu kawasan Parangendog ke arah timur hingga Sadeng memiliki kecenderungan untuk diwaspadai, karena berpotensi menimbulkan kecepatan rambat gelombang tsunami yang lebih besar dibandingkan dengan bagian barat daerah penelitian. Zonasi Resiko Tsunami Zona resiko tsunami tinggi terwakili oleh tempat-tempat di sepanjang pantai di timur Foto 2. Pantai Tipe 2 dengan litologi penyusunnya pasir abu-abu kehitaman yang dimanfaatkan sebagai obyek wisata (Lokasi Pantai Parangtritis). Gambar 3. Peta Kedalaman Dasar Laut Kawasan Pantai Selatan Yogyakarta

 JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 5, No. 3, Desember 2007 164 Gambar 5. Lokasi Pusat Gempabumi Tanggal 17 Juli 2006. Gambar 4. Tampilan 3-D Kedalaman dasar Laut Kawasan Pantai Selatan Yogyakarta.

JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Volume 5, No. 3, Desember 2007 165 daerah penelitian, khususnya pada daerahdaerah yang berbentuk teluk dan kantongkantong pantai yang meliputi kawasan sepanjang pantai mulai dari Parangendog ke arah timur hingga Pantai Sadeng,. Di daerah ini terdapat potensi penumpukan energi gelombang tsunami, sehingga gelombang tsunami berpotensi memiliki ketinggian yang cukup besar dibandingkan dengan di daerah dengan garis pantai lurus. Di daerah ini lokasi pemukiman berada sangat dekat dengan garis pantai, sehingga memiliki potensi kerusakan aset yang cukup besar, serta korban manusia yang besar apabila terjadi tsunami. Aktifitas nelayan mempengaruhi tingkat kerentanan tsunami di daerah ini, karena apabila terjadi tsunami, perahu-perahu yang tidak tertambat dengan kuat di pantai, akan berpotensi merusak karena dapat menghantam pemukiman yang berada di belakang pantai. Kerentanan tsunami rendah adalah daerah dengan elevasi ketinggian relatif tinggi di atas muka laut, diperlihatkan oleh perbukitan yang terbentuk oleh morfologi sepanjang pantai atau perbukitan yang terdapat di belakang pantai. Zona resiko tsunami rendah, diwakili oleh kawasan pantai sepanjang pantai bagian barat daerah penelitian, yaitu mulai dari Pantai Parangtritis hingga Pantai Congot yang memiliki morfologi pantai datar, namun karena di kawasan ini, pemukiman berada pada jarak relatif jauh dari garis pantai, dengan keberadaan pelindung alami seperti adanya gumuk pasir, menjadikan wilayah ini memiliki potensi kerusakan aset serta korban manusia relatif kecil. Dampak Tsunami 17 Juli 2006 di Kawasan Pantai Selatan Yogyakarta Gempa yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 (Gambar 5) telah menimbulkan tsunami dan dampaknya dirasakan oleh masyarakat di kawasan pantai selatan Yogyakarta. Hasil pengukuran ketinggian tsunami yang dilakukan di pantai menunjukkan bahwa di kawasan pantai Yogyakarta, ketinggian tsunami berkisar antara 1 meter - 3,4 meter (G. Suantika, drr, 2006) (Gambar 6). Dampak yang diperlihatkan di kawasan pantai Yogyakarta, menunjukkan bahwa penggunaan lahan dan pelindung alami di pantai sangat membantu dalam mengurangi kerusakan akibat tsunami, misalnya di kawasan wisata Parangtritis, letak pemukiman dan bangunan semi-permanen berada di belakang gumuk pasir dan kemiringan pantai yang relatif curam mampu mereduksi gelombang tsunami. Sedangkan di pantai berbentuk teluk yang dimanfaatkan sebagai tempat aktifitas nelayan, dimana banyak perahu ditambatkan di pantai, menimbulkan dampak kerusakan materi, meskipun tidak terlalu besar, letak pemukiman yang terlindung oleh pepohonan, mengurangi dampak kerusakan akibat hantaman perahu. Salah satu contoh penataan kawasan rawan bencana tsunami yang sederhana dan cukup baik di daerah penelitian (Foto 3).

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © The Corrupted Snail - Blogger Templates - Powered by Blogger